Keberagaman agama di Tulungagung kerap memunculkan gesekan antara organisasi Islam, kelompok minoritas, maupun komunitas penghayat kepercayaan, namun kajian tentang peran tokoh masyarakat dalam deteksi dini konflik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tokoh agama dalam mendeteksi potensi konflik sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama di wilayah rawan konflik. Dengan menggunakan pendekatan berbasis komunitas, penelitian ini melibatkan penyuluh agama dan perwakilan organisasi kemasyarakatan dari empat kecamatan yang diidentifikasi Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) sebagai rentan terhadap konflik dan penyebaran paham radikal. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan di lokasi yang memiliki sejarah ketegangan antar kelompok, kemudian diperdalam melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali strategi pencegahan konflik. Analisis tematik menunjukkan bahwa tokoh agama tidak hanya berperan sebagai mediator, tetapi juga sebagai inisiator mekanisme dialog yang memungkinkan kelompok berbeda terlibat dalam percakapan inklusif. Keterlibatan mereka terbukti mampu menurunkan ketegangan sosial, khususnya dengan mengubah forum-forum informal menjadi ruang pencegahan bagi munculnya perselisihan sebelum berkembang lebih jauh. Temuan lain menunjukkan bahwa sinergi antara tokoh agama, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil membentuk sistem peringatan dini yang lebih kuat karena memadukan kearifan lokal dengan dukungan kelembagaan. Penelitian ini menegaskan bahwa moderasi beragama di Tulungagung menjadi efektif ketika dioperasionalisasikan melalui praktik konkret deteksi dini konflik, sekaligus menawarkan model yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan keragaman serupa.
Copyrights © 2025