Penelitian ini membahas Sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki peran penting dalam sejarah, nilai adat, dan identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pengrajin, serta pemerhati budaya, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan model interaktif Miles & Huberman, sementara keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah Sasando memiliki beragam versi yang hidup dalam tradisi lisan, antara lain versi Pupuk Soroba pada abad ke-13, Sangguana pada abad ke-17, maupun dua pemuda Lunggi Lain dan Balo Ama. Perbedaan narasi ini mencerminkan dinamika tradisi lisan yang tetap menguatkan identitas kolektif masyarakat Rote. Dari segi fungsi budaya, Sasando bukan sekadar instrumen musik, melainkan memiliki nilai sakral, sosial, dan simbolik dalam berbagai upacara adat. Proses pembuatan Sasando melibatkan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, sehingga menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang eksklusif. Faktor pendukung pelestarian Sasando meliputi peran komunitas lokal melalui sanggar seni, dukungan pemerintah dalam festival budaya, serta pendidikan multikultural di sekolah. Namun demikian, hambatan yang dihadapi antara lain menurunnya minat generasi muda, berkurangnya tenaga pengrajin terampil, serta dominasi musik modern. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi pelestarian yang adaptif, seperti revitalisasi fungsi, integrasi dalam pendidikan, serta promosi budaya melalui festival dan diplomasi internasional. Dengan demikian, Sasando tidak hanya menjadi warisan lokal masyarakat Rote, tetapi juga berpotensi sebagai ikon budaya bangsa Indonesia di tingkat global.
Copyrights © 2025