Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan pengaruh indikator keuangan utama yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan perkembangan dana murah terhadap profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA) Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Provinsi Sumatera Barat sebelum dan sesudah merger. Di tengah tantangan disrupsi teknologi, perubahan regulasi, dan dinamika pasca-pandemi, merger menjadi strategi konsolidasi utama. Namun, data awal menunjukkan fakta yang menarik dimana peningkatan intermediasi BPR justru diiringi penurunan profitabilitas dan lonjakan risiko kredit. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi peristiwa pada 8 BPR, penelitian ini menerapkan Uji Beda Wilcoxon dan regresi data panel dengan Fixed Effect Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merger secara fundamental mengubah model bisnis BPR dari berorientasi kelangsungan hidup menjadi berorientasi pertumbuhan. Pasca-merger, CAR, LDR, dan dana murah menjadi pendorong profitabilitas yang signifikan, sementara dampak negatif dari NPL menjadi lebih besar dan lebih terasa setelah proses merger BPR. Kesimpulannya, merger berhasil membuka potensi pertumbuhan melalui realisasi sinergi keuangan dan pendanaan, namun datang dengan konsekuensi peningkatan risiko kredit yang signifikan, yang menuntut kerangka kerja manajemen risiko dan penerapan tata kelola yang lebih kuat.
Copyrights © 2025