Penelitian ini menganalisis representasi perempuan dan kekerasan simbolik dalam film Before, Now&Then (Nana) karya Kamila Andini, menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Film ini mengisahkan perjuangan batin Nana, seorang perempuan Sunda pasca-revolusi 1960-an, yang menghadapi tekanan tradisi, patriarki, dan trauma sejarah. Analisis semiotika Barthes—meliputi denotasi, konotasi, dan mitos—membantu membongkar bagaimana film ini mereproduksi dan sekaligus mengkritik ideologi patriarki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menggunakan keheningan dan ruang domestik (rumah dan dapur) sebagai simbol kekerasan simbolik Pierre Bourdieu, yang bekerja secara halus untuk membatasi peran dan suara perempuan. Namun, film ini juga menampilkan perlawanan yang subtil melalui karakter Nana yang "kuat dalam diamnya" serta solidaritas antarperempuan (Nana dan Ino) yang menjadi strategi bertahan dan emansipasi. Secara keseluruhan, film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang merekam trauma kolektif dan menantang narasi sejarah dominan yang sering membungkam pengalaman perempuan.
Copyrights © 2025