Dunia pendidikan saat ini sedang diguncang oleh kebijakan pengiriman siswa nakal ke barak militer sebagai solusi pendidikan karakter humanis. Kebijakan ini didasarkan pada asumsi bahwa pendekatan militer efektif dalam membentuk disiplin dan ketertiban siswa. Namun, kebijakan ini menimbulkan pertanyaan komprehensif dari perspektif etika pendidikan. Terutama terkait dengan penghormatan terhadap martabat manusia dan metode pembelajaran yang membebaskan. Penelitian ini tentunya bertujuan untuk mengkaji dan mengkritik pendidikan di barak dalam membangun karakter dan menawarkan sistem pendidikan pesantren sebagai preferensi humanis yang lebih etis dan konstruktif. Seperti peneliti lainnya, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi dokumen sebagai sumber utama. Serta analisis kritis terhadap praktik pendidikan di barak militer dan pondok pesantren. Kemudian peneliti mengeksplorasi secara konseptual dan normatif, terkait dengan kebijakan penyertaan siswa ke barak dengan membandingkan nilai-nilai pendidikan humanis yang dibangun dalam sistem pondok pesantren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan di barak cenderung menggunakan tekanan struktural dan pemaksaan melalui mekanisme tekanan fisik yang berdampak pada psikologi anak, dan berpotensi melanggar prinsip kebebasan dan penghormatan terhadap siswa sebagai mata pelajaran pembelajaran. Sebaliknya, sistem pondok pesantren menawarkan pendekatan relasional, spiritual, dan transformatif yang lebih sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan humanis. Oleh karena itu, pondok pesantren dapat dijadikan preferensi alternatif dalam menyekolahkan siswa yang bermasalah daripada ke barak yang cenderung lebih memaksa pendidikan.
Copyrights © 2025