Dalam Masyarakat yang menganut budaya patriarki, perempuan dianggap sebagai kelas dua yang bergantung pada laki-laki, baik sebagai ayah, suami, maupun paman. Tuntutan praktis dan nilai-nilai budaya yang mengharuskan perempuan untuk tunduk, patuh, dan menjaga kerumahtanggaan menjadikan mereka terbelakang, tertindas, dan tidak mampu mandiri dalam segala hal. Sebaliknya, laki-laki dipandang sebagai kelas satu yang berkuasa. Penelitian ini mengkaji perempuan yang ada dalam novel “Imraa’atun ‘Inda Nuqthoh Shifr” karya Nawal El Saadawi dan novel “Hari Perlarian” karya Yulia Sujarwo. Secara umum novel Imraa’atun ‘Inda Nuqthoh Shifr dan Hari Runungan masih menganut nilai-nilai budaya patriarki dan ingin menampilkan diri sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dengan laki-laki. Persoalan ini diungkapkan melalui tokoh Firdaus (Imraa’atun ‘Inda Nuqthoh Shifr) dan Sekar (Hari Pelarian) yang berjuang mencapai kesetaraan status dan melepaskan diri dari dominasi laki-laki yang menindas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa paragraf yang terdapat dalam novel dan sumber data novel dan buku acuan yang berkenaan dengan penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, teknik pengumpulan data dengan teknik baca dan teknik catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan analisis isi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana deskripsi gender yang dialami oleh tokoh Firdaus dalam novel “Imraa’atun ‘inda Nuqthah Shifr” dan tokoh Marni dalam novel “Hari Pelarian”. Hasil dari penelitian ini adalah adanya diskriminasi gender yang dialami oleh tokoh Firdaus dan Sekar yang meUrutkan kata kunci untuk mempermudah pembaca memahasi point inti naskah penelitian inimbuat mereka harus melanggar norma dan kodratnya sebagai perempuan di masa tersebut
Copyrights © 2025