Artikel ini bertujuan membahas fenomena social climber, yaitu perilaku individu yang berusaha meningkatkan status sosialnya melalui berbagai cara, termasuk membangun citra, menampilkan gaya hidup, dan menonjolkan penampilan di hadapan orang lain. Individu semacam ini kerap menampilkan kehidupan yang lebih mewah atau berlebihan daripada kondisi nyata, dengan tujuan memperoleh pengakuan sosial lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) dengan perspektif fenomenologi, menelaah hadis-hadis dari Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim untuk memahami pandangan Islam terhadap perilaku social climber dan solusi yang ditawarkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku social climber cenderung bertentangan dengan nilai-nilai Islam karena mengandung sifat sombong, riya’, dan obsesi untuk terlihat lebih dari kemampuan nyata. Hadis menekankan pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati dalam kehidupan sosial sebagai antitesis dari perilaku social climber. Kontribusi utama artikel ini terletak pada pemahaman kontekstual tentang social climber dari perspektif hadis, yang menunjukkan relevansi ajaran Islam dalam membentuk etika sosial dan moralitas kontemporer, serta memberikan panduan bagi individu untuk menilai dan mengendalikan ambisi mereka agar selaras dengan prinsip-prinsip agama.
Copyrights © 2025