Penelitian ini mengkaji dinamika kepemimpinan perempuan di Bengkulu yang masih dibatasi oleh kuatnya sistem patriarki. Tujuan penelitian adalah memahami hambatan yang dihadapi perempuan dalam menjalankan peran kepemimpinan sekaligus menelaah strategi adaptif yang mereka gunakan untuk menegosiasikan norma gender yang timpang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumentasi, sementara analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma sosial dan konstruksi budaya menempatkan perempuan pada posisi subordinat sehingga legitimasi kepemimpinan mereka sering diragukan, meskipun mereka memiliki kapasitas yang setara. Meskipun demikian, perempuan Bengkulu mampu mengembangkan gaya kepemimpinan kolaboratif, partisipatif, dan empatik yang membuat mereka lebih diterima di ruang publik. Dukungan keluarga terbukti menjadi faktor penting dalam memperkuat rasa percaya diri dan ketahanan emosional perempuan untuk menghadapi resistensi budaya. Temuan ini menegaskan bahwa meski representasi perempuan dalam kepemimpinan masih rendah, terdapat tanda positif berupa munculnya generasi muda yang lebih berani menempati posisi strategis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami relasi patriarki dan kepemimpinan perempuan serta menekankan pentingnya pendidikan setara, kebijakan afirmatif, dan pola asuh egaliter untuk memperkuat tatanan kepemimpinan yang lebih inklusif.
Copyrights © 2025