Penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dalam pembibitan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dapat menurunkan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan alternatif seperti pupuk organik cair (POC) rebung bambu yang mengandung zat pengatur tumbuh dan mikroorganisme bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian POC rebung bambu dan pupuk NPK 16-16-16 terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Institut Teknologi Sawit Indonesia pada Februari–Mei 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor, yaitu dosis POC (0, 100, 200, dan 300 ml/polibag) dan NPK (0, 5, 7,5, dan 10 g/polibag). Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC rebung bambu secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, sedangkan NPK 16-16-16 berpengaruh nyata terhadap diameter batang, jumlah daun, serta berat basah dan kering tajuk dan akar, dengan hasil terbaik pada dosis 7,5 g/polibag. Interaksi POC dan NPK juga berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan berat basah tajuk, di mana kombinasi A2P2 (200 ml POC + 7,5 g NPK) menghasilkan pertumbuhan terbaik. Dengan demikian, kombinasi pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan menjadi strategi berkelanjutan dalam pembibitan kelapa sawit.
Copyrights © 2025