Industri garmen di Indonesia menghadapi tantangan efisiensi produksi, terutama pada proses pembuatan jaket outdoor di CV. B&R Sport Wear. Permasalahan yang muncul adalah variasi kecepatan kerja antar operator, ketidakteraturan alur kerja serta keterbatasan standar waktu baku yang berdampak pada rendahnya produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengukuran waktu kerja dengan membandingkan tiga metode, yaitu Performance Rating, Shumard, dan Westinghouse guna untuk menentukan metode yang paling sesuai dalam penetapan waktu normal dan waktu baku produksi. Penelitian dilakukan menggunakan stopwatch time study pada seluruh tahapan produksi mulai dari pemotongan kain hingga pengemasan melalui pengamatan berulang dengan melakukan pengamatan berulang-ulang sebanyak 50 kali pengamatan secara sistematis untuk memperoleh data yang representatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Performance Rating dan Westinghouse menghasilkan waktu normal yang relatif konsisten. Sebaliknya, metode Shumard cenderung ekstrem, khususnya pada proses menjahit lengan baju hampir dua kali lipat dari waktu pengamatan. Perbedaan ini menegaskan bahwa metode Shumard kurang stabil ketika nilai standar berbeda signifikan dengan kondisi aktual. Dengan demikian, metode Westinghouse dinilai lebih unggul karena memberikan estimasi yang moderat, stabil, dan realistis. Hasil ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan kapasitas, evaluasi produktivitas serta perbaikan manajemen kerja di CV. B&R Sport Wear maupun industri garmen secara umum.
Copyrights © 2025