Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu sentra perikanan terbesar di Indonesia, dengan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan standar keamanan pangan (food safety) hasil perikanan, terutama untuk pasar ekspor, melalui adopsi standar seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) atau SNI (Standar Nasional Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis stakeholder guna memetakan peran, kepentingan, dan hubungan antar-aktor dalam jejaring inovasi (Innovation Network) transfer teknologi keamanan pangan di Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif, melibatkan Social Network Analysis (SNA) kualitatif dan in-depth interview dengan 25 stakeholder kunci (nelayan/pelaku usaha kecil, eksportir, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Karantina, dan akademisi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejaring inovasi bersifat terfragmentasi dan sentralistik, di mana Eksportir Besar (Big Player) memiliki peran sentral dan dominan (high centrality), sementara Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terpinggirkan (peripheral role). Dinas Kelautan dan Perikanan memiliki peran penghubung (broker) yang rendah. Disparitas kekuasaan (power imbalance) dan defisit kepercayaan antar-aktor menghambat transfer pengetahuan HACCP/SNI yang efisien. Diperlukan strategi intervensi yang fokus pada penguatan kapasitas kelembagaan broker (universitas/lembaga riset) dan penciptaan platform dialog multipartnership yang inklusif.
Copyrights © 2025