CMM digunakan untuk menjelaskan bagaimana makna sakral dalam ritual dibentuk dan dikoordinasikan melalui level-level makna seperti konten, tindak tutur, episode, relasi sosial, naskah hidup, dan pola budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi simbol-simbol ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritual Purnama Tilem yang dijalankan masyarakat Hindu di Desa Ngaroh merupakan bentuk komunikasi transendental dan ekspresi budaya yang mengandung makna sakral mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa makna sakral dibangun melalui simbol-simbol ritual seperti daksina, dupa, canang, tirta, dan bija yang berfungsi sebagai media komunikasi spiritual. Dalam tindak tutur, doa dan mantra membentuk koordinasi makna antara umat dan Sang Hyang Widhi, memperkuat relasi spiritual sekaligus solidaritas sosial. Episode ritual menjadi ruang sakral yang terstruktur dan diwariskan secara budaya. Hubungan sosial yang terbentuk menciptakan keterikatan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (antarumat), membangun harmoni spiritual kolektif. Pada tingkat naskah hidup, identitas sebagai pelanjut tradisi dan pelaku spiritual dibentuk melalui partisipasi aktif dalam ritual. Pola budaya seperti Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi menjadi fondasi nilai dalam struktur komunikasi ritual. Hasil ini menunjukkan bahwa melalui kerangka CMM, makna religius dan identitas budaya dikonstruksi secara dinamis dalam praktik sosial keagamaan masyarakat Hindu Ngaroh.
Copyrights © 2025