Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gagal panen, distribusi, dan pembayaran terhadap peningkatan penjualan pupuk bersubsidi dengan regulasi sebagai variabel mediasi. Latar penelitian berangkat dari fenomena penurunan penjualan pupuk bersubsidi tahun 2024 di wilayah Ngasem dan Kedewan, Bojonegoro, yang rata-ratanya mencapai 7,90% dengan variasi antar kios yang cukup signifikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 170 responden dari 17 kios. Instrumen penelitian diuji validitas dan reliabilitasnya, dan data dianalisis menggunakan model jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagal panen berpengaruh negatif signifikan terhadap penjualan pupuk, sedangkan distribusi dan keteraturan pembayaran berpengaruh positif signifikan. Regulasi terbukti menjadi variabel mediasi yang berperan penting: ia meredam dampak negatif gagal panen sekaligus memperkuat dampak positif distribusi dan pembayaran terhadap penjualan. Temuan ini menegaskan bahwa regulasi tidak hanya berfungsi sebagai aturan administratif, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang menjaga stabilitas pasar pupuk bersubsidi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan penjualan pupuk bersubsidi bergantung pada sinergi antara distributor, kios, petani, dan pemerintah. Efisiensi distribusi, kedisiplinan pembayaran, serta regulasi yang adaptif dan akuntabel menjadi kunci dalam menjaga kelancaran pasokan pupuk dan keberlanjutan sistem pertanian di tengah risiko gagal panen.
Copyrights © 2025