Di daerah pariwisata seperti Bali, peningkatan hunian dan Pembangunan sekarang dilakukan secara massif. Pasca covid-19, Masyarakat mulai menyadari pentingnya gaya hidup sehat (health lifestyle), produktif dengan menciptakan hunian yang nyaman sebagai pendukung sesuai dengan prinsip wellness architecture, yaitu menciptakan kesejahteraan baik secara fisik maupun mental salah satunya dengan memperhatikan pencahayaan alami pada bangunan. Intensitas cahaya yang masuk kedalam bangunan berpengaruh dalam kesejahteraan (wellness) penghuninya. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan (1) menganalisis tingkat pencahayaan alami di Berawa Living Apartment yang dapat memengaruhi kenyamanan pengguna (2) Mengidentifikasi faktor desain dari prinsip wellness architecture yang memengaruhi pencahayaan alami dalam Berawa Living Apartment. Dengan simulasi software DIAlux evo sebagai metode dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan pada 5 ruang modul tipe 2B dengan intensitas cahaya yang masuk kedalam living room & kitchen pada bulan Maret dan Desember terlalu rendah dan tidak memenuhi standar, sedangkan bedroom 1 & 2, serta bathroom 1 & 2 telah memenuhi standar minimal SNI 6197:2020 dan PERMENKES 1077:2011. Hal tersebut juga berlaku pada luas dan posisi bukaan, luas ruang, material serta fasad bangunan memengaruhi intensitas cahaya yang masuk dalam ruang. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perancangan hunian berkonsep wellness architecture di kawasan tropis.
Copyrights © 2025