Penelitian ini berfokus pada penggunaan Bahasa Indonesia dalam praktik pembelajaran kuliner di Laboratorium Tata Boga Universitas Negri Medan. Metode yang digunakan adalah observasi langsung terhadap kegiatan praktikum memasak, khususnya interaksi antara mahasiswa, dosen, dan staf. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari, baik dalam penyampaian instruksi maupun koordinasi tim. Namun, istilah asing seperti plating dan garnish tetap muncul dalam konteks teknis. Situasi ini menunjukkan adanya percampuran bahasa yang alami sekaligus menjadi tantangan dalam menjaga istilah kuliner Indonesia. Penelitian ini menyarankan adanya penguatan pembelajaran komunikasi kuliner agar mahasiswa mampu menguasai istilah internasional tanpa mengabaikan kekayaan bahasa nasional
Copyrights © 2025