Broken home, dimana struktur atau fungsi keluarga terganggu (misalnya perceraian atau absennya salah satu orang tua), dapat memengaruhi motivasi belajar, prestasi akademik, dan kesejahteraan psikologis siswa. Dalam konteks pendidikan, manajemen kesiswaan memiliki tanggung jawab strategis untuk mengidentifikasi intervensi yang efektif, salah satunya home visit. Artikel ini meninjau literatur pendidikan untuk menganalisis bagaimana home visit direncanakan dan diorganisasikan dalam manajemen kesiswaan, apa dampak nyata bagi siswa broken home (termasuk motivasi belajar, kedisiplinan, pencapaian akademik), serta kendala dan faktor pendukung dalam pelaksanaannya. Berdasarkan studi‐studi di pendidikan formal (tingkat sekolah), hasil menunjukkan bahwa home visit yang pelayanan dan pelaksanaannya didukung oleh kebijakan sekolah, guru BK, wali kelas, dan orang tua dapat meningkatkan motivasi, prestasi, dan kesejahteraan siswa. Namun, hambatan seperti sumber daya terbatas, komunikasi orang tua‐sekolah yang lemah, dan waktu pelaksanaan yang tidak fleksibel sering muncul. Rekomendasi ditujukan kepada pihak sekolah agar home visit lebih diintegrasikan ke dalam sistem manajemen kesiswaan sebagai bagian rutin pendampingan siswa, khususnya yang berasal dari broken home.
Copyrights © 2025