Fenomena krisis identitas keislaman yang terjadi di kalangan generasi muda Muslim saat ini merupakan tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI). Arus globalisasi, penetrasi media digital, dan paparan ideologi transnasional telah mengaburkan pemahaman keislaman yang moderat dan berakar pada tradisi. Dalam konteks ini, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) seperti tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi sangat relevan untuk diintegrasikan kembali dalam pembelajaran PAI. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual bagaimana nilai-nilai Aswaja dapat direvitalisasi sebagai fondasi penguatan karakter keislaman yang inklusif dan kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research), dengan menelaah literatur klasik dan kontemporer yang membahas konsep Aswaja serta implikasinya dalam pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai Aswaja dalam kurikulum, metode pembelajaran, dan kompetensi guru merupakan strategi efektif dalam membangun identitas keagamaan yang moderat dan berakar pada kearifan lokal. Revitalisasi ini diharapkan mampu menanggulangi radikalisme serta memperkuat Islam yang rahmatan lil ‘alamin di kalangan peserta didik
Copyrights © 2025