Artikel ini membahas fenomena fatalisme, khususnya dalam bentuk kepatuhan yang berlebihan dan ketaatan tanpa nalar terhadap figur agama maupun tokoh politik. Sikap semacam ini dinilai menghambat tumbuhnya masyarakat yang kritis, tercerahkan, dan partisipatif. Dengan merujuk pada nilai-nilai Islam berupa tarbiyah (pendidikan) dan da’wah bil hikmah (dakwah dengan kebijaksanaan), tulisan ini mendorong pentingnya keterlibatan intelektual, literasi media, serta komunikasi yang egaliter sebagai cara untuk melawan konformitas buta. Dalam perspektif ini, dakwah Islam dimaknai ulang bukan sebagai alat indoktrinasi, melainkan sebagai kekuatan transformatif yang membebaskan manusia melalui rasionalitas, kesadaran etis, dan pemikiran kritis.
Copyrights © 2025