Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi infrastruktur terhadap akses internet di Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, yang dikenal sebagai komunitas adat Sunda Wiwitan dengan kearifan lokal berbasis tradisi pangan singkong. Akses internet yang cepat, stabil, dan terjangkau merupakan kebutuhan penting dalam mendukung pendidikan, perekonomian, serta promosi budaya, namun di wilayah adat ini masih terdapat keterbatasan infrastruktur digital. Permasalahan tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan digital (digital divide) antara masyarakat adat dan masyarakat perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilengkapi survei kuantitatif terhadap 40 responden dari berbagai latar belakang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif dengan model Miles, Huberman, dan Saldana. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode, serta member check dengan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat hanya dapat mengakses layanan internet dari satu penyedia dengan kualitas sinyal yang relatif stabil, sementara operator lain tidak berfungsi optimal. Keterbatasan infrastruktur ini berdampak pada rendahnya pemanfaatan internet dalam pendidikan daring, pemasaran produk UMKM, dan promosi pariwisata berbasis budaya lokal. Meskipun demikian, masyarakat menunjukkan kesiapan sosial yang tinggi, khususnya generasi muda dan pelaku usaha, yang memandang keterampilan digital sebagai kebutuhan mendesak. Dukungan terhadap kolaborasi dengan perguruan tinggi atau lembaga ahli juga mengemuka sebagai harapan bersama. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital yang inklusif, disertai peningkatan literasi digital, merupakan syarat penting untuk mempersempit kesenjangan digital sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat dan pelestarian identitas budaya Kampung Adat Cireundeu.
Copyrights © 2025