Stigma merupakan sikap negatif yang muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat terhadap permasalahan kesehatan jiwa. Stigma dapat mengurangi dukungan yang diberikan keluarga dalam proses perawatan orang dengan gangguan jiwa di rumah. Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Kasongan 2, orang dengan gangguan jiwa sering mendapatkan label sebagai orang gila, dijauhi oleh lingkungan sekitarnya, kurangnya dukungan keluarga dan penelantaran pada penderita gangguan jiwa. Tujuan penelitian ini Menganalisis hubungan stigma dengan dukungan keluarga dalam perawatan orang dengan gangguan jiwa di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Kasongan 2. Metode penelitian ini menggunakan desain analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa, jumlah sampel sebanyak 35 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner stigma dan dukungan keluarga. Analisa data menggunakan uji statistik Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma pada orang dengan gangguan jiwa berada pada kategori positif dan dukungan keluarga dalam perawatan orang dengan gangguan jiwa berada pada kategori baik sebanyak 29 orang (89,2%). Ada hubungan kuat, stigma dengan dukungan keluarga, p value 0,000 < 0,05 dan r value 0,789. Stigma memiliki hubungan kuat dengan dukungan keluarga dalam perawatan pasien dengan gangguan jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Kasongan 2, semakin positif stigma pada orang dengan gangguan jiwa maka akan semakin dukungan yang diberikan oleh keluarga. Pendidikan kesehatan jiwa bagi pasien dan keluarga untuk mengurangi dampak stigma dan meningkatkan dukungan keluarga.
Copyrights © 2026