Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang paling tua. Lembaga pendidikan ini sampai sekarang masih eksis dan terus dipertahankan. Seiring berjalannya waktu, lembaga pesantren menghadapi tantangan pekembangan sains dan teknologi yang sangat berat yang harus disadari oleh para pemangku pesantren. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menyingkap bagaimana arkeologi pengetahuan pesantren salaf (tradisional) dengan pendekatan arkeologi pengetahuan Michel Foucault. Setelah arkeologi pesantren salaf disingkap, dianalisis dengan teori Taksonomi Bloom. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa pertama, diskursus atau pengetahuan pesantren yang disebarkan dan diajarkan ke para santri adalah diskursus ilmu pengetahuan agama yang terdiri dari akidah Sunni Asy’ari-Maturidi, fikih empat mazhab terutama mazhab Syafi’i, dan tasawuf Imam al-Ghazali dan Imam al-Junaid al-Baghdadi. Kedua, internalisasi diskursus yang telah disusun dan disebarkan sedemikian rupa itu dalam berbagai aktivitas melalui indoktrinansi dalam keyakinan, pola pikir, gerak dan langkah hingga mengakar kuat dan menjiwai. Ketiga, kontinuitas (pertahanan paradigma) ditancapkan melalui pikiran, gerak dan langkah para santri. Para santri di pesantren salaf dibentuk dan dikaderkan hingga menjadi pejuang dan pendakwah sekte Sunni Asy’ari-Maturidi, pejuang fikih empat mazhab terutama Syafi’i dan pejuang tasawuf Imam al-Ghazali dan Imam al-Junaid al-Baghdadi. Jika dianalisis dengan teori Taksonomi Bloom, sistem pengetahuan pesantren salaf hanya sampai pada apply (menerapkan), belum sampai pada level tiga di atasnya (analyze, evaluate, dan create). Kata Kunci: Pesantren Salaf, Arkeologi Pengetahuan, Taksonomi Bloom
Copyrights © 2025