Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persistensi praktik perdukunan serta memahami persepsi masyarakat Muslim di Kecamatan Simeulue Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku perdukunan, dan warga setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik perdukunan berakar pada tradisi pra-Islam seperti animisme dan dinamisme, dan dipertahankan melalui sistem pewarisan ilmu dalam penyembuhan tradisional. Perdukunan memiliki peran multidimensi, dari penyembuhan alternatif hingga penanganan masalah nonmedis, dan diminati oleh berbagai kalangan. Persepsi masyarakat bersifat kompromistis; meskipun sebagian menyadari ketidaksesuaian dengan syariat Islam, mayoritas tetap menerima praktik ini karena kebutuhan praktis dan pemahaman agama yang terbatas. Tokoh agama bersikap hati-hati dalam menyikapi fenomena ini untuk menghindari konflik sosial. Faktor-faktor utama yang memperkuat eksistensi perdukunan meliputi kuatnya budaya pra-Islam, rendahnya literasi agama, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan yang efektif.
Copyrights © 2025