Latar belakang: Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (anonim, 1986). Sistem ekstraksi efisien yang dapat digunakan pada proses ekstraksi produk pangan salah satunya adalah ekstraksi berbantu gelombang mikro (MAE). Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama ekstraksi daun matoa (Pomitea pinnata) menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Lama ekstraksi yang digunakan yaitu 2, 4, 6, dan 8 menit dengan level daya 450 W dan maserasi tunggal digunakan sebagai perlakuan kontrol. Metode: Metode yang digunakan adalah percobaan laboratorium dengan analisis deskriptif. Parameter yang diuji meliputi kadar air, rendemen total, warna, dan kadar flavonoid. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun matoa segar memiliki kadar air sebesar 69,18 % sedangkan daun matoa kering memiliki kadar air sebesar 10,36 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan ekstraksi MAE dan Maserasi sebagai kontrol, rendemen ekstrak mengalami peningkatan. Ekstraksi dengan maserasi sebagai kontrol memiliki nilai rendemen yang lebih tinggi yaitu 12.465% dibandingkan nilai rendemen menggunakan ekstraksi MAE yaitu sebesar 6.239%. Berdasarkan pengamatan warna secara visual, ekstrak etanol daun matoa menunjukkan warna hitam kehijauan, dengan nilai Notasi L* rata-rata sebesar 17 (agak gelap), nilai notasi a* bernilai positif (kemerahan), dan nilai notasi b* bernilai negatif (kebiruan). Perlakuan lama ekstraksi 4 menit mampu menghasilkan ekstrak daun matoa yang memiliki kadar flavonoid tertinggi pada perlakuan ekstraksi MAE yaitu sebesar 1361,39 mg/100g QE, serta pada perlakuan maserasi sebagai kontrol sebesar 1091,43 mg/100g QE.
Copyrights © 2025