Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam (fenomenologi) mengenai pengalaman yang dialami dan peran yang diemban oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam membantu siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Banyuwangi dalam mengatasi krisis identitas. Siswa SMK berada pada tahap perkembangan remaja yang krusial, diperparah oleh tekanan tuntutan karir, akademik, dan penemuan jati diri, yang sering memicu krisis identitas. Berangkat dari kondisi ini, Guru BK menjadi figur sentral dalam memfasilitasi integrasi identitas diri siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis - IPA). Partisipan penelitian terdiri dari lima Guru BK yang secara aktif terlibat dalam penanganan kasus krisis identitas siswa SMK di wilayah Banyuwangi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Analisis data IPA berfokus pada pemaknaan dan pemahaman atas pengalaman subjektif para partisipan. Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa tema sentral terkait pengalaman Guru BK, meliputi: (1) Perasaan kewalahan dan dilema antara peran pendidik dan penegak disiplin; (2) Strategi layanan komprehensif yang memadukan konseling individual, bimbingan kelompok karir, dan kolaborasi dengan orang tua/dunia industri; serta (3) Pemaknaan diri sebagai fasilitator pematangan identitas karir dan pribadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran Guru BK di SMK Banyuwangi melampaui batas tradisional, menuntut kompetensi profesional tinggi dan pendekatan kontekstual untuk membantu siswa merumuskan identitas yang terintegrasi, terutama identitas karir. Temuan ini diharapkan memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan model layanan BK yang lebih adaptif di sekolah kejuruan.
Copyrights © 2025