Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Pendidikan Kesehatan Remaja (PKR), khususnya terkait isu kesehatan reproduksi, dengan fokus pada persepsi dan kendala yang dihadapi oleh Guru mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banyuwangi. Kesehatan reproduksi remaja merupakan isu krusial di Indonesia, namun implementasi pendidikan terkait sering terhambat oleh faktor sosiokultural dan kesiapan pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain fenomenologi, melibatkan Guru Biologi, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari tiga SMA berbeda di Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan analisis dokumen kurikulum. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan tantangan. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa Guru memiliki persepsi positif tentang pentingnya PKR, namun menghadapi kendala signifikan, termasuk: (1) Kecemasan Guru (teacher anxiety) terkait norma agama dan etika sosial saat membahas seksualitas; (2) Keterbatasan waktu dan materi dalam Kurikulum 2013 yang tidak eksplisit; dan (3) Penolakan atau ketidaknyamanan dari lingkungan siswa dan orang tua. Dirumuskan bahwa implementasi PKR di Banyuwangi berada dalam situasi "dilema moral-profesional". Penelitian ini menyimpulkan perlunya modul pelatihan yang sensitif budaya dan kolaborasi yang lebih kuat antara sekolah, orang tua, dan penyedia layanan kesehatan untuk mendukung Guru.
Copyrights © 2025