Industri pupuk nasional menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan bahan baku yang stabil, khususnya clay, yang memiliki pola konsumsi berfluktuasi dari tahun ke tahun. Kondisi ini menimbulkan risiko kelebihan maupun kekurangan stok yang berdampak pada efisiensi rantai pasok dan keberlangsungan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode peramalan yang paling akurat dalam memprediksi kebutuhan bahan baku clay di PT. PKC dengan membandingkan metode Single Moving Average (SMA) dan Double Moving Average (DMA). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif studi kasus menggunakan data sekunder berupa catatan historis konsumsi bulanan clay periode Januari 2022 hingga Desember 2024. Analisis akurasi dilakukan dengan tiga ukuran kesalahan, yaitu Mean Absolute Percentage Error (MAPE), Mean Absolute Deviation (MAD), dan Mean Squared Error (MSE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode 5-SMA menghasilkan tingkat kesalahan yang lebih kecil dibandingkan 5-DMA, dengan nilai MAPE sebesar 34,185% yang termasuk kategori cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa metode 5-SMA lebih sesuai digunakan untuk meramalkan kebutuhan clay karena mampu memberikan hasil yang lebih stabil dan mendukung perencanaan persediaan yang efisien. Dengan demikian, penerapan metode ini dapat membantu perusahaan dalam mengurangi risiko ketidakseimbangan stok serta memastikan kelancaran proses produksi secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025