Studi ini menyelidiki bagaimana implikatur, strategi kesantunan, dan kewajiban sosial (deontik) diwujudkan serta saling memengaruhi dalam tuturan layanan publik lintas-kanal. Menggunakan rancangan pragmatik berbasis korpus dengan pendekatan mixed-methods, kami membangun korpus multi-kanal (tatap muka, telepon, chat/aplikasi, email/portal) yang beranotasi pada tiga lapis: tindak tutur, tipe implikatur (percakapan generik/spesifik; konvensional), dan penandaan kesantunan serta enactment kewajiban (rujukan SOP, tenggat, bukti layanan). Reliabilitas anotasi memenuhi ambang κ≥0,70. Analisis mencakup statistik korpus (distribusi, kolokasi, dependency), model regresi untuk peluang pemenuhan kewajiban dan analisis survival untuk waktu respons, dilengkapi pembacaan kualitatif berbutir sekuens (CA). Hasil menunjukkan dominasi implikatur percakapan, dengan varian spesifik lebih tinggi pada kanal sinkron (telepon), sedangkan kanal tertulis menampilkan proporsi lebih besar implikatur konvensional dan catatan deontik yang lebih eksplisit. Negative politeness paling prevalen, sementara positive politeness dan off-record menengahi penolakan/penundaan secara empatik. Indeks kinerja pragmatik yang diusulkan—CPI (clarity-with-politeness) dan CEI (compliance-with-empathy)—berkorelasi positif dengan pemenuhan kewajiban dan percepatan respons. Kebaruan studi terletak pada integrasi simultan implikatur–kesantunan–deontik dalam korpus lintas-kanal, yang memetakan trade-off antara kepatuhan prosedural dan pemeliharaan muka, serta memberikan dasar praktis bagi desain skrip layanan dan pelatihan frontliner.
Copyrights © 2025