Secara umum, saham adalah surat tanda kepemilikan perusahaan. Harga saham terbentuk di pasar saham dan ditentukan oleh beberapa faktor seperti laba per saham dasar atau earning per share, rasio laba terhadap harga per lembar saham atau price earning ratio, tingkat bunga bebas resiko yang diukur dari tingkat bunga deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan. Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis fundamental perusahaan. Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk semua pemegang saham perusahaan. EPS merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar saham. Investor yang ingin menanamkan modalnya di pasar saham harus mengetahui bagaimana prediksi harga saham kedepan agar tidak mengalami kerugian. Pada penelitian ini digunakan metode peramalan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan Exponential Smoothing untuk memprediksi harga saham tiga perusahaan berdasarkan nilai EPS tertinggi dari saham-saham yang tergabung dalam LQ45. Kedua metode tersebut dibandingkan untuk melihat metode yang lebih baik dalam peramalan harga saham tersebut dengan melihat nilai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dari masing-masing metode. Berdasarkan hasil peramalan, nilai MAPE metode Exponential Smoothing lebih kecil dibandingkan metode ARIMA. Hal itu menunjukkan bahwa metode Exponential Smoothing lebih baik daripada metode ARIMA untuk peramalan harga saham pada penelitian ini.
Copyrights © 2017