Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana suatu “ruang” dihidupi dan dimaknai oleh anak-anak yatim dalam keseharian mereka yang terikat dengan Yayasan Darul Hasanah di Pondok Pinang berdasarkan pada teori produksi ruang yang dicetuskan oleh Henri Lefebvre. Adapun struktur metode lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif sosiologi dan antropologi untuk menganalisis interaksi sosial dan kebiasaan religius anak-anak yatim. Hasil penelitian menunjukkan adanya praktik keseharian anak-anak yatim yang mengaji di Yayasan Darul Hasanah. Mereka menghafal Al-Qur'an serta mempraktekkan apa yang diajarakan dalam pelajaran agama lainnya pada keseharian mereka, seperti fikih dan akidah akhlak di rumah. Selain di rumah, mereka juga datang ke Yayasan Darul Hasanah pada Ahad sore, menunggu azan Maghrib di sana dan sholat berjamaah, untuk kemudian dilanjutkan dengan mengaji. Praktik keseharian yang menjadi hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kegiatan mengaji yang dilakukan di ruang “rumah” maupun di ruang “yayasan” dari Yayasan Darul Hasanah tidak hanya sekadar kegiatan pembelajaran Al-Qur’an, namun juga merupakan bentuk produksi ruang dan hak atas kota yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari mereka dari tahun 2010-2012. Kegiatan belajar mengaji yang dilakukan oleh anak-anak yatim dalam “ruang” ini, memperoleh cara dan kebiasaanya tersendiri dalam mempraktekkannya pada keseharian mereka. Sehingga menciptakan adanya relasi antara anak dengan ibunya, pengajarnya, maupun teman sebayanya, serta menciptakan makna-makna pada ruang-ruang tersebut.
Copyrights © 2023