Khairunnisa, Zahra Fathia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Produksi Ruang dalam Keseharian Pengajian Anak Yatim dengan Yayasan Darul Hasanah di Pondok Pinang (2010-2012) Apriyani, Marlina; Rizki, Mutia Maulida; Khairani, Nadia Syarfa; Nurqolbi, Muhammad Thoriq; Khairunnisa, Zahra Fathia
Socio Historica: Journal of Islamic Social History Vol 2, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Faculty of Adab and Humanities, Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sh.v2i2.39905

Abstract

AbstrakThis research aims to find out the relationship between kebaya and social class of Javanese women during the colonial period (1890-1940) by using the perspective of Pierre Bourdieu's habitus theory, as well as knowing how kebaya plays a role in emphasising the social structure during the colonial period. The method used is the historical method with literature study analysis through archival data, photographs, and literature such as books and journals related to the discussion of kebaya and social class in the Dutch East Indies. The results show that kebaya not only functions as a traditional dress, but also as a symbol that reflects and influences a woman's social class. During the colonialism era, kebaya was worn by aristocrats and commoners, including women of Chinese and Dutch descent. This successfully demonstrated their adaptation to the local culture. The variety of designs, patterns, colours and materials of the kebaya itself reflected the social status that maintained the social structure in colonial society. Various types of kebaya were also created in the colonial era such as Kebaya Kartini, Kebaya Encim, European Kebaya, and others. Through the habitus perspective, kebaya can be understood as part of a social habit that is influenced by social structure and history. This research provides a new perspective by applying Pierre Bourdieu's habitus theory, which helps explain how kebaya is not only a garment but also a symbol of status and identity that is acquired and maintained through social practices. The significance of this research is that it enriches the understanding of how kebaya played a role in the social and cultural dynamics of the colonial period in Indonesia. In conclusion, kebaya was an important tool in the formation and reproduction of social class structures in colonial Java, in accordance with Pierre Bourdieu's habitus theory that links cultural practices with social status positions.
Produksi Ruang dalam Keseharian Pengajian Anak Yatim dengan Yayasan Darul Hasanah di Pondok Pinang (2010-2012) Khairunnisa, Zahra Fathia
Socio Historica: Journal of Islamic Social History Vol. 2 No. 2 (2023): Vol. 2, No. 2, Desember 2023
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sh.v2i1.39900

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana suatu “ruang” dihidupi dan dimaknai oleh anak-anak yatim dalam keseharian mereka yang terikat dengan Yayasan Darul Hasanah di Pondok Pinang berdasarkan pada teori produksi ruang yang dicetuskan oleh Henri Lefebvre. Adapun struktur metode lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif sosiologi dan antropologi untuk menganalisis interaksi sosial dan kebiasaan religius anak-anak yatim. Hasil penelitian menunjukkan adanya praktik keseharian anak-anak yatim yang mengaji di Yayasan Darul Hasanah. Mereka menghafal Al-Qur'an serta mempraktekkan apa yang diajarakan dalam pelajaran agama lainnya pada keseharian mereka, seperti fikih dan akidah akhlak di rumah. Selain di rumah, mereka juga datang ke Yayasan Darul Hasanah pada Ahad sore, menunggu azan Maghrib di sana dan sholat berjamaah, untuk kemudian dilanjutkan dengan mengaji. Praktik keseharian yang menjadi hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kegiatan mengaji yang dilakukan di ruang “rumah” maupun di ruang “yayasan” dari Yayasan Darul Hasanah tidak hanya sekadar kegiatan pembelajaran Al-Qur’an, namun juga merupakan bentuk produksi ruang dan hak atas kota yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari mereka dari tahun 2010-2012. Kegiatan belajar mengaji yang dilakukan oleh anak-anak yatim dalam “ruang” ini, memperoleh cara dan kebiasaanya tersendiri dalam mempraktekkannya pada keseharian mereka. Sehingga menciptakan adanya relasi antara anak dengan ibunya, pengajarnya, maupun teman sebayanya, serta menciptakan makna-makna pada ruang-ruang tersebut.