Problematika penafsiran pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw menjadi landasan pembahasan tulisan ini. Proses penafsiran yang terbiasa diinterpretasikan oleh Nabi Muhammad Saw juga mengalami perubahan. Sumber penafsiran yang semula Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan sunah, berkembang hingga mengambil pendapat para sahabat. Pendapat yang dilandasi pemahaman yang lebih tentang bahasa Arab juga situasi saat Al-Qur’an itu diturunkan pun masih menjadi problem. Hal ini dikarenakan ada sumber lain yang menjadi acuan para sahabat, yakni hasil dari dialog para sahabat dengan ahlul kitab yang mengahasilkan kisah israiliyyat dalam tafsir. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana perkembangan tafsir periode sahabat, mengidentifikasi ciri-cirinya dan problematika pemahaman tafsir periode sahabat. Sehingga bisa memunculkan pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut. Metode penelitian tulisan ini adalah kualitatif melalui pengumpulan data secara library research. Langkah analisis juga dibahas dalam tiga tahapan. Pertama, menentukan tema pembahasan dengan mengambil sumber dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an dan Tafsir wa al-Mufassirun. Kedua, membahas aspek-aspek sentral dari pembahasan baik itu perkembangan, ciri-ciri dan problematika pemahaman tafsir periode sahabat. Ketiga, membuat kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan. Hasil dari penelitian ini memuat tiga poin: pertama, pemahaman dan ijtihad sahabat bisa dijadikan sumber, jika terpenuhi syarat-syarat dan adab-adab seorang mufassir. Kedua, tafsir periode sahabat belum sistematis, masih terpisah-pisah dan belum ada pembukuan. Terbukti dari tafsir Ibnu Abbas yang diriwayatkan Ali bin Abu Thalhah yang baru dibukukan pada abad 2. Ketiga, para mufassir sahabat yang menukil kisah-kisah israiliyyat hanya sedikit sekali. Sahabat justru mendahulukan pemahaman dan ijtihadnya sendiri. Hal ini membuktikan kredibilitas sahabat yang baik juga menjauhi perkara yang belum jelas benar atau tidaknya.
Copyrights © 2023