Tafsir Lathaif al-Isyarat, karya Imam al-Qusyairi, menciptakan harmoni antara ilmu syariat dan hakikat, mengklaim bahwa tidak ada kontradiksi di antara keduanya. Setiap tafsir tidak terlepas dari pengaruh latar belakang mufassir. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan dengan fokus pada Tafsir Lathaif al-Isyarat sebagai sumber primer dan menggunakan buku serta jurnal sebagai referensi sekunder yang terfokus pada aspek metodologis. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi penafsiran Al-Qusyairi terhadap Lataif Al-Isyarat dan metodenya dalam penafsiran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qusyairi, sebagai sufi, mencoba menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan konsep tasawuf dan bahasa sastra, membimbing pembaca ke dalam perasaan jiwa sufi. Hal ini penting dalam konteks pembelaan terhadap tasawuf pada masa Sultan Thaghral. Dari segi metodologi, Al-Qusyairi menggunakan metode tahlili untuk menganalisis isi ayat Al-Quran dari berbagai aspek tasawuf. Sumbernya mencakup bacaan akal dan isyarat, walaupun isyarat akalnya tidak murni, tetapi digunakan untuk tetap berpegang pada nash Al-Quran. Dalam hal corak, Al-Qusyairi menggabungkan tasawuf dan psikologi dengan simbol sastra, menerapkan konsep maqamat dan ahwal secara kreatif. Komentar ulama menyatakan bahwa tafsir ini tidak memihak pada hakikat atau syariat, menjunjung tinggi keadilan, dan menentang kebid'ahan. Kesimpulannya, Tafsir Lathaif al-Isyarat bukan hanya karya sufi, tetapi juga hasil pemikiran kreatif yang mencoba menyatukan berbagai konsep dengan mempertahankan nilai-nilai Islam.
Copyrights © 2023