Penelitian ini mengkaji bagaimana realita pergundikan yang ada di Pulau Jawa. Studi ini berupaya mengetahui bagaimana sejarah kelam dan juga penindasan yang dilakukan oleh orang Eropa kepada perempuan pribumi. Adapun sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah fotofoto yang terdapat di KITLV, laporan perkebunan De Millionen Uit Deli, Staatsblad, artikel dalam koran Algeemen Handelsblad, dan sebuah laporan yang dibukukan berjudul Cultuur-Adressbook Voor Nederlandsche-Indie. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kritik mimetik dan teori feminisme. Pendekatan ini berkaitan erat dengan sastra karena kritik mimetic adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai aspek tiruan dalam hal sehari-hari. Sementara itu, teori feminism berkaitan erat dengan adanya perempuan yang menuntut haknya sama dengan lelaki. Pergundikan yang disebabkan karena faktor ekonomi pun mulai merajalela dan mendorong perempuan pribumi untuk hidup bersama pria Eropa dalam rumah tanpa adanya ikatan pernikahan. Tak hanya itu, pergundikan juga dapat disebabkan dari keluarganya yang menjual putrinya kepada pria Eropa untuk dijadikan gundik. Pemerintah Hindia Belanda kala itu yakni Jan Pieterszoon Coen sudah melakukan berbagai macam upaya untuk memberhentikan adanya praktik pergundikan, namun semua usahanya berakhir sia-sia. Praktik pergundikan yang melibatkan antara perempuan Pribumi dan pria Eropa tentunya menjadi sejarah kelam di Indonesia. Pergundikan ini berakhir semenjak para perempuan mulai berani bersuara, dan juga adanya modernisasi. Para nyai turut memiliki andil dalam modernisasi dan menghasilkan kebudayaan baru yang bernama kebudayaan Indis. Kebudayaan Indis menyangkut beberapa hal seperti gaya makan, gaya berpakaian, dan juga bahasa.
Copyrights © 2024