Pawelling Gesang, Zahra Berliani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pergundikan di Pulau Jawa Masa Hindia Belanda 1870 – 1942 Pawelling Gesang, Zahra Berliani
Socio Historica: Journal of Islamic Social History Vol 3, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Faculty of Adab and Humanities, Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sh.v3i2.37852

Abstract

This experience examines the reality of husbandry on the island of Java. This study seeks to find out the dark history and oppression carried out by Europeans on native women. The sources used in this research are photographs in KITLV, reports on the De Millionen Uit Deli plantation, Staatsblad, articles in the newspaper Algeemen Handelsblad, and a report recorded in the book entitled Cultuur-Adressbook Voor NederlandscheIndie. This research uses historical methods with a mimetic critical approach and feminist theory. This approach is closely related to literature because mimetic criticism is criticism that views literary works as imitation aspects of everyday things. Meanwhile, feminist theory is closely related to the existence of women who demand the same rights as men. Concubinage caused by economic factors began to become rampant and encouraged native women to live with European men at home without marriage. Not only that, concubinage can also be caused by her family selling their daughters to European men to be concubines. The Dutch East Indies government at that time, namely Jan Pieterszoon Coen, had made various efforts to stop the practice of concubinage, but all their efforts ended in vain. The practice of concubinage involving Indigenous women and European men is certainly a dark history in Indonesia. This concubinage ended when women began to dare to speak out, and also with modernization. The nyai also played a role in modernization and producing a new culture called Indic culture. Indic culture involves several things such as eating style, clothing style, and also language
Pergundikan di Pulau Jawa Masa Hindia Belanda 1870 – 1942 Pawelling Gesang, Zahra Berliani
Socio Historica: Journal of Islamic Social History Vol. 3 No. 2 (2024): Vol. 3, No. 2, Desember 2024
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sh.v3i2.37852

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana realita pergundikan yang ada di Pulau Jawa. Studi ini berupaya mengetahui bagaimana sejarah kelam dan juga penindasan yang dilakukan oleh orang Eropa kepada perempuan pribumi. Adapun sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah fotofoto yang terdapat di KITLV, laporan perkebunan De Millionen Uit Deli, Staatsblad, artikel dalam koran Algeemen Handelsblad, dan sebuah laporan yang dibukukan berjudul Cultuur-Adressbook Voor Nederlandsche-Indie. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kritik mimetik dan teori feminisme. Pendekatan ini berkaitan erat dengan sastra karena kritik mimetic adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai aspek tiruan dalam hal sehari-hari. Sementara itu, teori feminism berkaitan erat dengan adanya perempuan yang menuntut haknya sama dengan lelaki. Pergundikan yang disebabkan karena faktor ekonomi pun mulai merajalela dan mendorong perempuan pribumi untuk hidup bersama pria Eropa dalam rumah tanpa adanya ikatan pernikahan. Tak hanya itu, pergundikan juga dapat disebabkan dari keluarganya yang menjual putrinya kepada pria Eropa untuk dijadikan gundik. Pemerintah Hindia Belanda kala itu yakni Jan Pieterszoon Coen sudah melakukan berbagai macam upaya untuk memberhentikan adanya praktik pergundikan, namun semua usahanya berakhir sia-sia. Praktik pergundikan yang melibatkan antara perempuan Pribumi dan pria Eropa tentunya menjadi sejarah kelam di Indonesia. Pergundikan ini berakhir semenjak para perempuan mulai berani bersuara, dan juga adanya modernisasi. Para nyai turut memiliki andil dalam modernisasi dan menghasilkan kebudayaan baru yang bernama kebudayaan Indis. Kebudayaan Indis menyangkut beberapa hal seperti gaya makan, gaya berpakaian, dan juga bahasa.