Penderitaan merupakan realitas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan seringkalimenimbulkan pertanyaan teologis mendalam mengenai eksistensi dan keadilan Allah. Artikel ini membahasbagaimana tradisi iman, khususnya dalam Islam dan Kristen, merespons penderitaan melalui konsep teodisi.Dengan metode kajian literatur, tulisan ini mengeksplorasi pandangan Ayub tentang penderitaan, teodisiIrenaeus yang menekankan penderitaan sebagai sarana pertumbuhan spiritual, serta peran penderitaandalam membentuk iman dan karakter manusia. Ditekankan pula bahwa penderitaan bukan hanya hukumanatas dosa, melainkan juga alat Allah untuk memurnikan iman, membentuk karakter, dan mengingatkanmanusia akan kebutuhannya kepada Allah. Pada akhirnya, meskipun penderitaan seringkali tampakbertentangan dengan kasih Allah, namun dalam perspektif teologi, penderitaan justru menjadi jalan bagimanusia untuk mengalami pemulihan dan pertumbuhan iman yang lebih dalam. Artikel ini mengajakpembaca untuk memahami bahwa di balik setiap penderitaan, terdapat maksud ilahi yang membawakebaikan dan penyempurnaan jiwa.
Copyrights © 2025