Sejarah keseharian sering kali menyoroti dinamika sosial dan budaya yang terjadi di ruang-ruang publik. Dalam konteks Ciputat, khususnya di bawah flyover pasar Ciputat, telah berkembang kebiasaan masyarakat yang menantang arus lalu lintas sebagai bagian dari upaya sehari-hari menghindari kemacetan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penggunaan jalan tikus oleh warga sebagai alternatif dalam mengatasi kemacetan parah di wilayah tersebut. Metodologi penelitian yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pengguna jalan, serta tinjauan literatur mengenai pola mobilitas urban dan sejarah keseharian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini tidak hanya merupakan respons praktis terhadap situasi lalu lintas, tetapi juga mencerminkan adaptasi budaya masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Jalan tikus menjadi solusi praktis yang mengurangi waktu tempuh dan stress pengendara, meskipun sering kali melibatkan risiko keselamatan. Lebih jauh, kebiasaan ini memperlihatkan interaksi kompleks antara individu dan lingkungan urban yang terus berubah. Studi ini juga membahas implikasi dari praktik ini terhadap perencanaan kota dan kebijakan transportasi di Ciputat, menggarisbawahi pentingnya peningkatan fasilitas transportasi umum dan pengembangan infrastruktur yang lebih efisien. Dengan memahami dinamika keseharian ini, diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam upaya penanganan kemacetan dan perbaikan sistem transportasi di wilayah perkotaan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur sejarah keseharian dengan menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi warga dalam menghadapi tantangan urbanisasi.
Copyrights © 2025