Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginterpretasikan esensi pengalaman hidup (lived experience) guru Kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA) Banyuwangi dalam mengimplementasikan model pembelajaran berbasis Inkuiri (terbimbing maupun bebas) sebagai strategi untuk meningkatkan Keterampilan Proses Sains (KPS). KPS adalah kompetensi krusial untuk menghasilkan lulusan yang berpikir ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif (Heideggerian) dengan melibatkan enam guru Kimia dari tiga SMA berbeda di Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam naratif dan refleksi tertulis. Analisis tematik menghasilkan tiga tema esensial: (1) The Tension of Time: Konflik antara Kedalaman Eksplorasi dan Kepadatan Kurikulum, yang menjadi kendala utama; (2) The Joy of Discovery: Validasi Profesional Guru melalui Keberhasilan Siswa, yang menjadi motivasi intrinsik; dan (3) Scaffolding Dilemma: Keseimbangan antara Bantuan dan Kemerdekaan Siswa dalam Berinkuiri. Interpretasi fenomenologis menunjukkan bahwa pengalaman implementasi inkuiri merupakan proses eksistensial struggle (perjuangan) yang ditandai dengan upaya gigih guru untuk merekonsiliasi idealisme ilmiah dengan realitas pedagogis di lapangan. Studi ini merekomendasikan perlunya forum berbagi praktik inkuiri dan peningkatan alokasi waktu praktik laboratorium.
Copyrights © 2025