Pelaksanaan tradisi Mappanre Temme’ dimulai dari menyiapkan berbagai perlengkapan dan hal-hal yang dibutuhkan demi jalannya tradisi ini. Prosesi Mappanre Temme’ memerlukan berbagai persiapan mulai dari kue-kue, hidangan, songkolo, beberapa ekor ayam, Alquran yang dibungkus kain putih, amplop bagi guru mengaji (sebagai cenning ati) dan tentu saja Alquran yang digunakan untuk membaca. Anak tersebut kemudian menuju rumah guru mengaji dengan cara disoppo mengelilingi kampung oleh keluarga terdekatnya dalam hal ini pada zaman dulu. Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa, hal itupun terjadi (di soppo) jika bersamaan dengan kegiatan khitanan, Selanjutnya melaksanakan barazanji yang dilanjutkan dengan prosesi inti yakni membaca Alquran guna menamatkan Alquran itu sendiri (mapptemme’). Setiap selesai membaca tiap surah selain membaca kalimat tahlil dan tahmid (La Ilaha Illallah wa lillah Ilham) seorang murid mengaji akan dipercikkan sedikit beras kepada dirinya sama, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ini adalah wujud dari do’a perbuatan (sennung-sennungeng) tahapan prosesi ini dikenal dengan istilah Mappasiduppa. Demi mewujudkan eksistensi dari tradisi Mappanre Temme’, maka diperlukan nilai-nilai yang tetap menjaga keberadaan tradisi tersebut. Nilai nilai tersebut yaitu etos kerja, kasih sayang, sabar, bersyukur, dan estetis.
Copyrights © 2016