Kurikulum memiliki peran penting dalam mengarahkan jalannya pendidikan dan perlu diperbarui agar selalu relevan dengan perkembangan masyarakat. Tantangan abad ke-21 serta era Society 5.0 menuntut hadirnya generasi yang kritis, kreatif, kolaboratif, dan adaptif dalam menghadapi dinamika global. Namun, pendidikan di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti perubahan kurikulum yang tidak konsisten, rendahnya kompetensi guru, dan keterbatasan sarana prasarana. Artikel ini bertujuan menelaah relevansi filsafat progresivisme dengan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kajian pustaka, yang mencakup artikel jurnal ilmiah sebagai sumber primer dan dokumen resmi pemerintah sebagai sumber sekunder. Data dianalisis secara logis dan sistematis sesuai dengan fokus kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka selaras dengan prinsip progresivisme yang digagas John Dewey, yaitu pembelajaran yang demokratis, fleksibel, serta berpusat pada peserta didik. Model pembelajaran berbasis proyek terbukti mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, sekaligus menghasilkan karya nyata. Meski demikian, implementasinya masih terkendala faktor struktural dan kultural. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru, pemerataan fasilitas pendidikan, dan konsistensi kebijakan merupakan langkah penting untuk memastikan prinsip progresivisme terwujud dalam Kurikulum Merdeka, sehingga pendidikan yang adaptif dan relevan dengan tuntutan abad ke-21 dapat tercapai.
Copyrights © 2025