Penelitian ini mengkaji analisis narasi perkawinan paksa dalam pers perempuan pada awal abad ke-20, dengan fokus pada majalah dan surat kabar seperti Poetri Hindia, Soenting Melajoe, Isteri, Sedar, dan Pedoman Isteri. Melalui metode sejarah yang mencakup heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, serta analisis wacana deskriptif Michael Halliday dan pendekatan sosiologi komunikasi, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana media pers perempuan menggambarkan dan menentang praktik perkawinan paksa yang terkait dengan isu-isu seperti poligami dan perkawinan anak. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun praktik ini telah menjadi adat yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat kolonial karena faktor ekonomi dan status sosial, pers perempuan secara aktif mengkritiknya, terutama setelah kongres perempuan, dengan menyerukan penghapusan perkawinan paksa dan mendorong perempuan untuk memperjuangkan hak mereka. Selain itu, kritik juga diarahkan pada kesalahpahaman mengenai konsep wali mujbir, yang sering disalahartikan sebagai hak orang tua untuk memaksakan perjodohan, padahal intervensi ini lebih mencerminkan budaya dan karakter pribadi daripada ajaran agama.
Copyrights © 2024