Penelitian ini menganalisis tantangan utama penerapan energi terbarukan untuk operasional alat berat tambang di lokasi terpencil Indonesia. Dengan desain campuran—wawancara mendalam, survei, dan pemodelan techno-ekonomi—studi ini mengevaluasi kelayakan tenaga surya dan angin pada konfigurasi mikrogrid hibrida diesel. Fokus analisis mencakup keandalan pasokan saat beban puncak, intermitensi, kebutuhan penyimpanan energi, efisiensi konversi, keselamatan kerja, serta hambatan logistik. Aspek ekonomi dinilai melalui CAPEX/OPEX, levelized cost of energy, dan sensitivitas harga solar, sementara aspek sosial menilai penerimaan pemangku kepentingan, kesiapan keterampilan, dan pola kemitraan lokal. Hasil menunjukkan hambatan utama meliputi variabilitas sumber daya, degradasi baterai, serta ketidakpastian regulasi untuk proyek off-grid skala tambang. Namun, potensi penghematan bahan bakar dan penurunan emisi gas rumah kaca signifikan ketika PLTS dipadukan dengan sistem manajemen energi cerdas, penjadwalan beban, dan penyimpanan berbasis lithium. Integrasi operasional yang paling efektif dicapai melalui skema microgrid modular dengan cadangan genset, opsi penukaran baterai untuk haul truck listrik, serta pemanfaatan biodiesel/HVO sebagai jembatan transisi. Secara kuantitatif, skenario optimal menunjukkan peningkatan ketersediaan daya, penurunan konsumsi solar, dan biaya energi yang kompetitif pada faktor kapasitas surya >18% dan akses layanan pemeliharaan lokal. Rekomendasi meliputi standardisasi desain, kontrak PPA off-grid, insentif fiskal untuk penyimpanan energi, peningkatan kapasitas teknis operator daerah, serta peta jalan monitoring kinerja berbasis indikator keandalan, biaya, dan emisi. Temuan ini menawarkan arah strategi teknologi dan kebijakan guna mempercepat transisi energi bersih yang andal, efisien, dan kontekstual bagi operasi tambang terpencil di Indonesia.
Copyrights © 2026