Surabaya, kota yang berada di kawasan beriklim tropis, dengan penduduk yang beragam. Hal ini mendorong kebutuhan akan ruang berkumpul yang multifungsi dan adaptif terhadap kebutuhan pengguna, namun dapat tetap mempertahankan kualitas iklim yang mendukung kenyamanan pengguna. Tantangan utama terletak pada bagaimana fleksibilitas ruang dapat dihadirkan tanpa mengganggu prinsip arsitektur tropis, seperti ventilasi silang, pencahayaan alami, serta perlindungan terhadap panas dan curah hujan. Salah satu ruang berkumpul yang menerapkan konsep tropis sekaligus mengadopsi fleksibilitas ruang di Surabaya adalah C2O Library & Collabtive, sebuah perpustakaan swadaya yang juga difungsikan sebagai coworking space, tempat diskusi, serta tempat berkumpul komunitas kreatif untuk event-event tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana fleksibilitas ruang dapat mempengaruhi prinsip arsitektur tropis di C2O Library & Collabtive. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung dan studi literatur melalui jurnal terakreditasi, yang kemudian dikaji berdasarkan prinsip-prinsip arsitektur tropis untuk memahami sejauh mana fleksibilitas ruang berperan dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas ruang di C2O Library & Collabtive memungkinkan adaptasi fungsi ruang tanpa mengorbankan kenyamanan termal, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara. Hal ini mendukung penerapan prinsip arsitektur tropis secara pasif, efisien, dan adaptif terhadap berbagai aktivitas pengguna.
Copyrights © 2025