Krisis formasi iman di tengah era pascapandemi dan digital menuntut Gereja untuk meninjau ulang cara umat dibentuk dalam kehidupan beriman. Artikel ini bertujuan merefleksikan ibadah Kristen sebagai praktik pedagogis lintas generasi yang membentuk komunitas iman. Penelitian ini mengisi kekosongan refleksi integratif antara liturgi dan pendidikan Kristen yang selama ini berjalan secara terpisah dalam praktik kelembagaan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan teologi konstruktif, mengacu pada teori pedagogic recontextualization (Kusanagi), hermeneutika liturgis (Benini), dan pedagogi performatif (Bradshaw). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar ruang ritus, melainkan habitat teologis tempat sabda menjadi tubuh dan pembelajaran terjadi melalui simbol, afeksi, dan tindakan kolektif. Liturgi daring, bila ditata secara partisipatif, tetap mampu menjadi ruang pembentukan spiritual. Simpulan artikel ini menegaskan perlunya gereja membangun ibadah sebagai ruang belajar yang menyembah dan penyembahan yang membentuk, dalam kasih dan pengharapan eskatologis
Copyrights © 2025