Bilingualisme, atau kemampuan berbicara dalam dua bahasa atau lebih, menjadi semakin umum di era globalisasi ini. Banyak orang tua yang memilih memberikan pendidikan bilingual pada anak-anaknya karena keuntungan yang dianggap dapat diperoleh, seperti kemampuan berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, meningkatkan fleksibilitas berpikir, dan meningkatkan peluang karir di masa depan. Namun, masih terdapat perdebatan mengenai keuntungan dan kerugian bilingualisme pada anak usia dini. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana anak usia dini di Mentari Intelegensia School mendapatkan pengetahuan dan mengeathui minat belajar anak usia dini terbentuk pada pembelajaran bilingualisme (dwibahasa) di Mentari Intelegensia School. Metode penelitian yang digunakan dala penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan dalam tingkat pengetahuan bahasa Inggris antara anak-anak. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan komunikasi di rumah. Anak-anak yang memiliki lebih banyak paparan bahasa Inggris di rumah cenderung memiliki pengetahuan bahasa Inggris yang lebih luas. Dalam pembelajaran bilingual, penggunaan media juga berbeda. Minat belajar anak usia dini kedua subjek penelitian menunjukkan rasa senang dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Mika menunjukkan minat dalam bernyanyi dan mengoceh dalam bahasa Inggris secara mandiri, sementara Mumu tidak menunjukkan penolakan atau keengganan dalam belajar bahasa Inggris di playgroup.
Copyrights © 2024