Pendidikan nasional akan mendapat âdurian runtuhâ, yaitu berupa dana kompensasi BBM yang besarnya sekitar 5,6 triliyun rupiah. Kalau kita banding dengan jumlah anggaran pendidikan tahun 2004 lalu yang nilainya sebesar 15,2 trilyun maka dana kompensasi BBM untuk pendidikan tersebut cukup signifikan besarnya; yaitu mencapai di atas 36,8 persen atau lebih sepertiga dari anggaran yang lalu.        Meskipun masih jauh dari kebutuhan akan tetapi angka 5,6 trilyun rupiah tersebut terhitung besar untuk bidang pendidikan. Itulah sebabnya kemudian muncul berbagai pendapat masyarakat tentang penggunaan dan/atau pengelolaannya. Ada anggota masyarakat yang berpendapat bahwa sebaiknya dana tersebut digunakan untuk merenovasi gedung-gedung sekolah, terutama gedung SD, yang sudah bobrok, untuk menyekolahkan guru-guru yang kualitasnya rendah, untuk melengkapi kebutuhan sekolah seperti alat-alat laboratorium yang masih tidak lengkap, untuk membantu biaya pendidikan penduduk miskin, sampai dengan untuk menggratiskan pendidikan.        Ibaratnya sebuah keluarga miskin yang jarang pegang uang banyak, ketika keluarga tersebut tiba-tiba dapat uang yang cukup banyak jumlahnya maka segala keinginan terus muncul. Dan keluarga tersebut tidak tahu bila uang yang diperoleh tiba-tiba tersebut meskipun relatif banyak jumlahnya tetapi menjadi sedikit ketika dibandingkan dengan keinginannya.Â
Copyrights © 2005