Menurut Ibnu Khaldun, pembangunan tidak dapat dicapai kecuali dengan keadilan dan keadilan merupakan tolok ukur yang dipakai Allah untuk mengevaluasi manusia. Ibnu Taimiyah memandang keadilan sebagai hasil pokok keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang baik adalah komponen dari keadilan dan segala sesuatu yang buruk adalah komponen dari kezaliman dan penindasan.  Para pemimpin yang sukses sangat serius dalam mewujudkan keadilan. Mereka akan mengatakan sesuatu dan berusaha untuk melaksanakannya. Mereka melaksanakan dengan menggunakan prinsip keadilan, tidak pandang bulu. Sifat terpuji lain dari seorang pemimpin adalah kerendahan hati. Diriwayat oleh Kaâab Al-Ahbar bahwa Allah SWT berfirman kepada Musa AS.: âWahai Musa apakah engkau mengerti mengapa aku berbicara langsung kepadamu?â. Nabi Musa, âEngkau Maha Tahu tentang itu semua.â   Allah, âAku mengetahui setiap hati manusia, tetapi tidak pernah melihat hati yang lebih rendah hati seperti hatimu, karena itulah aku berbicara langsung denganmu.â Dalam buku Anecdotes from Islam, yang ditulis oleh M. Ebrahim Khan dikisahkan ketika wabah mengerikan menyerang Syria pada 639 M, sekitar 25.000 orang meninggal dunia. Berita wabah ganas itu mengganggu Khalifah Umar di Madinah. Ia pergi meninggalkan Madinah untuk meninjau Syria untuk membantu orang-orang yang masih hidup dengan segala cara. Perjalanan menuju Syria melewati kota Kristen Ayla. Beliau mengendarai unta dengan disertai beberapa pengikut. Agar identitas Umar tidak diketahui, beliau berganti tempat dengan pembantunya. Penduduk Ayla yang antusias ingin melihat Umar berbondong-bondong ke jalan dan bertanya-tanya, âDimanakah Umar?â. âIni dia di depan kalian,â jawab Umar dengan maksud ganda. Unta khalifah berjalan pelan dan kerumunan masa bergegas membuntutinya, karena pikir Umar masih berada di atas unta itu. Khalifah Umar menyelinap ke rumah seorang pendeta selama siang hari yang panas itu. Jubah yang dipakai Umar banyak yang sobek karena perjalanan yang berat dan ia berikan kepada tuan rumah untuk diperbaiki. Si pendeta menjahitnya kembali sembari mengembalikan jubah Umar, ia menawarkan satu jubah baru yang cocok untuk cuaca yang panas. Dengan mengucapkan terima kasih, khalifah Umar menolak pemberian itu dan lebih suka memakai jubahnya sendiri. Bilal yang terkenal sebagai muazzin Rasulullah, waktu itu tinggal di Syria. Setelah Rasulullah meninggal, ia menolak tugas sebagai muazzin dan menyerahkannya kepada orang lain. Beberapa tahun kemudian ia turut serta dalam ekspedisi militer ke Syria dan menghabiskan masa tuanya di sana. Pada malam keberangkatan Umar meninggalkan Syria, penguasa kota Damaskus menyarankan bahwa pada kesempatan terakhir ini, sebaiknya Bilal diminta untuk mengumandangkan azan. Lelaki lanjut usia itu memenuhi permintaan mereka dan dari puncak menara masjid, suara yang sudah tidak asing itu mengumandang dengan merdu dan keras. Teringat masa-masa shalat berjamaah bersama Rasulullah, para jamaah yang hadir larut dalam isak tangis. Bahkan pasukan muslim dengan Umar sebagai panglimanya tenggelam juga dengan deraian air mata. Ternyata azan muazzin agung itu merupakan azan terakhirnya, karena sesudah itu Bilal meninggal dunia. Azan muazzin agung itu adalah azan untuk menyambut sang pemimpin yang adil dan rendah hati, Umar bin Khathab.
Copyrights © 2005