Konsepsi Indeks Prestasi (IP) sebagai tolok ukur keberhasilan akademik mahasiswa serta lulusan perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS, kiranya tidak pernah dipersoalkan. Mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi yang ber-IP tinggi menandakan bahwa kualitas akademik mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi tersebut adalah tinggi, demikian pula yang sebaliknya.        Keadaan tersebut cukup wajar oleh karena konsepsi tersebut memang sejalan dengan sistem belajar mengajar yang dikembangkan oleh perguruan tinggi di negara kita. Meskipun demikian relevansi IP di dalam sistem aplikasi atau penerapan dan pemakaiannya sudah saatnya didiskusi-kan, atau bahkan perlu segera ditinjau lagi. Akhir-akhir ini memang banyak kasus pengaplikasian IP yang relevan-sitasnya perlu dipertimbangkan kembali. Sebagai contoh; untuk menerima kandidat peserta mahasiswa pasca sarjana (S2/S3) dipakai IP sebagai alat saring pertama; bagi pa-ra kandidat yang IP-nya memenuhi syarat, misalnya 2,50 atau 2,75 (catatan: IP bergerak dari 0,00 s/d 4,00), bo-leh jalan terus; tetapi bagi yang IP-nya tidak memenuhi persyaratan harus "mundur" teratur.        Pemakaian IP seperti tersebut di atas juga diper-gunakan bagi berbagai kepentingan akademik yang lainnya; misalnya saja dalam menyeleksi kandidat tenaga edukatif/ dosen di perguruan tinggi, menyeleksi kandidat mahasiswa penerima beasiswa, menyeleksi kandidat mahasiswa yang akan dikirim ke luar negeri melalui "students exchange programme" dengan berbagai universitas, demikian juga de ngan moment-moment akademik yang lainnya.
Copyrights © 1991