Penelitian ini mengkaji tema "Jangan Suruh Aku Kembali ke Mesir" dalam konteks teologi dan budaya, dengan fokus pada kajian hermeneutik-biblika serta relevansi kontekstual dalam pemahaman masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual dapat memberikan pemahaman baru tentang pembebasan bagi Orang Asli Papua yang mengalami diskriminasi rasial. Penelitian ini juga meneliti bagaimana pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dapat mempromosikan keadilan sosial, hak-hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap martabat orang Papua. Pertanyaan penelitian utama yang diajukan adalah bagaimana peristiwa Mesir dalam Alkitab dapat diterjemahkan dalam konteks zaman modern, terutama dalam kaitannya dengan pembebasan dan penindasan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual terhadap teks-teks Alkitab, buku-buku dan artikel yang relevan, serta mempertimbangkan dinamika sosial yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata “Mesir” sebagai simbol dalam teks-teks biblika sering kali mencerminkan ketegangan antara pengharapan untuk pembebasan dari pengalaman penindasan. Penelitian ini menyoroti relevansi tema tersebut dalam kehidupan kontemporer, serta implikasinya terhadap pemahaman teologis dan sosial.
Copyrights © 2025