Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kasih Yang Mendasari Hukum: Studi Biblika Perjanjian Lama Tentang Arti Ahavah Dalam Taurat Allah Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini: Love Underlies the Law: An Old Testament Biblical Study of the Meaning of Ahavah in God's Law and Its Relevance to Contemporary Christian Life Nari, Frazier
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 6 No 1 (2025): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v6i1.157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jauh lebih dalam tentang makna dari kata "kasih" dalam Hukum Taurat Perjanjian Lama dan bagaimana kasih Allah menjadi dasar dari hukum-hukum tersebut. Dengan pendekatan studi biblika, penelitian ini mengkaji penggunaan kata ahavah (kasih) dalam kitab Taurat, seperti Ulangan dan Imamat lalu mengaitkannya dengan gambaran kasih Allah yang tidak bersyarat dan kekal bagi umat-Nya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa hukum-hukum yang diberikan dalam Taurat lebih dari sekadar aturan moral atau sosial. Hukum Taurat merupakan ekspresi dari kasih Allah yang mendorong umat-Nya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya, dalam hubungan yang benar dengan Allah dan sesama manusia. Kasih yang tercermin dalam hukum-hukum Taurat mengundang umat Israel untuk merespons kasih Allah dengan hidup dalam ketaatan dan kasih terhadap Allah dan juga sesama. Dengan demikian, hukum Taurat bukan hanya aturan yang harus dipatuhi, tetapi juga panggilan untuk menjalani kehidupan yang penuh kasih sebagai respons terhadap kasih Allah yang tidak bersyarat kepada manusia
Missiology in The Psalm 96: Hebrew Poetry and God’s Sovereign Kingdom Nari, Frazier
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1404

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji dimensi misiologis dalam Mazmur 96 dengan menempatkannya dalam konteks keberagaman agama dan kepercayaan kepada Allah, baik pada zaman kuno Israel maupun dalam realitas masakini. Mazmur ini merepresentasikan kedaulatan Allah sebagai realitas universal yang melampaui batas etnis dan geografis, serta mengundang semua bangsa untuk mengakui dan menyembah-Nya. Permasalahan utama yang dianalisis adalah kurangnya perhatian terhadap kitab Mazmur sebagai teks yang memuat pesan misiologis, meskipun Mazmur 96 secara eksplisit menyerukan pujian kepada Allah dari seluruh bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana Mazmur 96 sebagai nyanyian liturgis dapat dipahami sebagai bentuk misi dalam konteks keberagaman iman? Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan teologis dalam kajian biblika untuk menelusuri konteks religius Mazmur 96 dalam tradisi Israel dan untuk menginterpretasikan makna misiologisnya dalam kerangka Missio Dei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazmur 96 tidak hanya berfungsi sebagai doa liturgis, tetapi juga sebagai proklamasi misi yang bersifat inklusif dan universal. Puji-pujian dan penyembahandalam Mazmur ini bukan hanya bentuk ibadah internal, tetapi juga ekspresi seni yang membawa daya tarik misiologis bagi bangsa-bangsa lain. Dengan demikian, kitab Mazmur dapat dipahami sebagai bagian integral dari narasi Misi Allah bagi seluruh dunia. AbstractThis study examines the missiological dimensions of Psalm 96 by situating it within the context of religious pluralism and belief in God, both in ancient Israel and in contemporary settings. The psalm articulates God’s sovereignty as a universal reality that transcends ethnic and geographical boundaries, inviting all nations torecognize and worship Him. The central issue addressed is the limited scholarly attention given to the Book of Psalms as a text bearing missiological significance, despite Psalm 96’s explicit call for all the earth to praise God. This raises the guiding question: how can Psalm 96, as a liturgical hymn, be understood as a form of mission within the context of religious diversity? Employing historical and theological approaches in biblical studies, this research explores the religious context of Psalm 96 within Israel’s tradition and interprets its missiological meaning within the framework of Missio Dei. The findings demonstrate that Psalm 96 functions not only as a liturgical prayerbut also as a proclamation of mission that is both inclusive and universal. The acts of praise and worship expressed in this psalm are thus not merely inward devotional practices, but also artistic and theological expressions carrying a missional invitation to other nations. Consequently, the Book of Psalms can be understood as an integral component of the biblical narrative of God’s mission to the whole world.
Jangan Suruh Aku Kembali Ke Mesir: Masa Lalu Dalam Teologi Dan Budaya : Don't Tell Me To Go Back To Egypt: The Past In Theology And Culture Nari, Frazier
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 6 No 2 (2025): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v6i2.182

Abstract

Penelitian ini mengkaji tema "Jangan Suruh Aku Kembali ke Mesir" dalam konteks teologi dan budaya, dengan fokus pada kajian hermeneutik-biblika serta relevansi kontekstual dalam pemahaman masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual dapat memberikan pemahaman baru tentang pembebasan bagi Orang Asli Papua yang mengalami diskriminasi rasial. Penelitian ini juga meneliti bagaimana pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dapat mempromosikan keadilan sosial, hak-hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap martabat orang Papua. Pertanyaan penelitian utama yang diajukan adalah bagaimana peristiwa Mesir dalam Alkitab dapat diterjemahkan dalam konteks zaman modern, terutama dalam kaitannya dengan pembebasan dan penindasan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual terhadap teks-teks Alkitab, buku-buku dan artikel yang relevan, serta mempertimbangkan dinamika sosial yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata “Mesir” sebagai simbol dalam teks-teks biblika sering kali mencerminkan ketegangan antara pengharapan untuk pembebasan dari pengalaman penindasan. Penelitian ini menyoroti relevansi tema tersebut dalam kehidupan kontemporer, serta implikasinya terhadap pemahaman teologis dan sosial.
Examining the Role of Ancestral Spirits and The Mission of the Holy Spirit in The Torajan Church Nari, Frazier
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 8, No 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v8i1.619

Abstract

This study explores the dynamic relationship between the ancestral spirit beliefs of the Aluk To dolo tradition in Toraja and the Christian doctrine of the Holy Spirit. Using a qualitative, literature-based methodology, the research analyzes theological and cultural perspectives to understand how these two spiritual frameworks interact and influence mission dynamics. Drawing on theological literature and anthropological insights, the study examines how traditional beliefs about ancestral spirits are perceived and reinterpreted, considering Christian pneumatology. The analysis of theological literature indicates that, within certain contextual and missiological interpretations, the work of the Holy Spirit has been articulated using categories familiar to ancestral spirit beliefs, thereby opening a dialogical space between indigenous spirituality and Christian pneumatology. While the core differences between the two remain significant, especially in their understanding of divine agency and authority, the study underscores the importance of respectful engagement in mission work. It concludes that a meaningful theological dialogue must acknowledge local beliefs while offering a transformative understanding grounded in Christian theology.
ASHES, POTSHERDS, AND GRIEF: A BIBLICAL STUDY OF THE SYMBOL OF SUFFERING IN JOB 2:8 Nari, Frazier
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2026): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i2.416

Abstract

This article explores the symbols of suffering in Job 2:8, namely ashes, potsherds, and grief as expressions of human suffering. The study aims to analyze the theological meaning of these symbols within the context of Job’s suffering and their implications for understanding God’s justice and human experience of suffering. The method used is a qualitative biblical exposition with a literature study approach, examining the original Hebrew text and its historical-cultural background. The findings show that ashes and potsherds function as tangible signs of sorrow and brokenness, while grief represents the deep emotional experience of suffering. Overall, these symbols convey a profound theological message about the human condition and God’s presence amid suffering. This article concludes that the symbolism in Job 2:8 invites readers to face suffering with honesty and faith, recognizing that suffering is part of the relationship between God and humanity that shapes spiritual resilience in hope.