Dikarenakan ulah sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab, baik yang ada di "dalam" maupun yang "luar" departemen, maka semakin terpuruklah reputasi departemen pendidikan nasional kita. Kebocoran soal-soal Ebtanas di SMU yang terjadi di wilayah DKI Jakarta, meskipun peristiwa ini bukan untuk pertama kalinya, benar-benar telah meluluhlantakkan nama baik departemen yang berslogan tut wuri handayani itu.      Mengapa hal itu bisa terjadi? Ya, karena Ebtanas merupakan sistem; dan sistem secanggih apapun tetap mengandung kelemahan. Dan salah satu bentuk kelemahan Ebtanas adalah kebocoran. Jadi, sesungguhnya kebocoran Ebtanas bukanlah sesuatu yang aneh dan ajaib; meski hal ini tidak dimaksudkan sebagai "excuse". Kebocoran Ebtanas merupakan hal yang lumrah; meski tetap saja musibah.      Apalagi, semenjak beberapa tahun yang terakhir ini sistem Ebtanas mulai dikembangkan dari sentralisasi menjadi desentralisasi yang lebih rawan terhadap bahaya kebocoran. Kalau dalam sistem sentralisasi dulu maka proses instrumentasi dari proses pembuatan soal sampai penggandaan dan pendistribusian dilakukan oleh Jakarta, utamanya Balitbang Depdiknas. Jadi katup kebocoran hanya ada satu di Jakarta. Sekarang, dalam sistem desentralisasi materi soal digandakan di daerah sehingga katup kebocoran bertambah banyak.       Lepas dari itu semua, kebocoran soal-soal Ebtanas memang banyak membawa kerugian; baik bagi pemerintah, sekolah, maupun masyarakat khususnya siswa dan orang tua siswa. Secara material beaya yang diperlukan untuk mengulang Ebtanas tentu tidak kecil, dan boleh jadi justru lebih banyak daripada beaya Ebtanas awalnya karena penyelenggaraan Ebtanas ulangan itu memerlukan keamanan yang lebih ketat. Kerugian nonmaterial tentu dirasakan oleh banyak orang saat ini; banyak siswa yang tidak konsentrasi belajar, orang tua tidak tenang, banyak pejabat tidak nyenyak tidur, dsb. Itu semua adalah bentuk kerugian nonmaterial.Error by Repeatation
Copyrights © 2000